Jumat, 25 Oktober 2013

BEADS TUTORIAL

http://bead-tutorial.livejournal.com/17959.html

[Tutorial] Crystal Bracelet : Donut Thai Style Part 1

Yes, I got many requests asking how to make this bracelet. It seems that the pattern is only available in my country. I don't know who is the original designer of this bracelet. But I got the pattern from Thai Crystal Magazine (December 2008) so all the credit will go to them.

Tutorial : Crystal Bracelet Donut Thai Style Part 1
Level : Advance






And yes, this is quite an advance project. You need many steps to complete it. Also, my photos may be not very clear. This project was very hard for me to take the good and clear photos at the right angle. If you don't understand my tutorial, feel free to ask me or follow the patterns.

Equipment :
- Swarovski Crystal 4 mm.
- Seed bead 11/o
- Watch Clasp
- Nylon thread no. 20 and 25
- Crimp beads

You need a lot of crystals and seed beads here. My bracelet length is 7 inches. I used 294 crystals.

I use Watch Clasp, the same clasp for this tutorial. If you can't find it locally, just use any clasp with two or three holes.

I use two sizes of nylon threads. But it's optional. I use No. 20 small thread to bead the seed bead base. Just to reduce the tension inside the beads and allow me to pass many threads into the same bead.

The first few step is somewhat similar to Netting stitch. You have to make the base first and add crystal later.

1.



First, we will make the base. Cut two No.20 nylon threads about your one arm span. String 11 seed beads.

2.



Cross the threads at a new seed bead (red arrow). Add three new seed beads to each thread.

3.



Join the threads of each side at the new seed beads (red arrows).

4.



Pick up the middle pair threads to add three new seed beads to each thread. Cross both threads at a new seed bead (red arrow).

5.



Pick up two left threads. Add new seven seed beads to the outer thread. And add three seed beads to the other. Cross both threads at a new seed bead (red arrow).
Do the same for the right side. And repeat step 4 and 5.

Note : For the length of the base, if it is for 6 inches wrist, make it 16 pairs of seed beads base. For 7 inches, 17 pairs will fit tightly. However, my clasp is 3 cm. If your clasp is smaller than 3 cm., you can make 17 pairs of base.

6.



When you're done, string back into the beads and knot the threads. Don't forget that the last pair should count 11 seed beads, the same number as we start.

Note : Don't worry if the base seems longer than your wrist. The finished project will be tight and shorter than the base you have now.

7.



Cut two No.25 nylon threads about your wingspan (your open arms). Put the two threads into the clasp. Add two seed beads and one crystal to each side.

8.



Pick up two threads - one for each side. Put the thread from the left crystal into the right crystal (red arrow) and from right to left crystal.

9.



I will do the left side first. Pick up a thread from the left crystal and put it into three seed beads of the base. Add one crystal to the right thread of the left crystal and put the thread into the same three seed beads.

10.



Now we do the same to the right crystal. Put the right thread from the right crystal into the three seed beads of the base. Put the left thread into the new crystal we added from the previous step (red arrow) and put the thread into the three seed beads.

11.



At the left pair, add one new crystal to left thread and cross both threads at the new crystal (red arrow).

12.



Add new crystal to the left thread (red arrow). Cross both threads at the three seed beads of the base.
13.



Repeat step 11 and 12 to the right side. Pull the threads tight to pin the crystals on the base.

14.



We first do the left side again. At the pair of the left threads, add one crystal to the right thread. Cross both threads at a new crystal (red arrow).

15.



Add one new crystal to the right thread (red arrow). Cross both threads at the three seed beads of the base.

16.



We do the right side. At the pair of the right threads, put the left thread to the crystal (red arrow). Cross both threads at a new crystal (blue arrow).

17.



Put the left thread to the crystal (red arrow). Cross both threads at the three seed beads of the base.

18.



Repeat step 11 - 17 to pin the crystals to the base. Don't worry if the bracelet is a little longer than your wrist. The very last step will tighten it up.

We will do the same as we start the bracelet. You have two last crystals. At the left crystal, put the right thread to the right crystal. Put the left thread of the right crystal to the left crystal (red arrow).

19.



Add two seed beads to each side. Then add the clasp and crimp bead. Make sure you pull the threads tight enough, then crush the crimp bead. Remove the rest of the threads.

Note : For me, I don't like to use the crimp bead because I often couldn't pull the threads tight. What I did was just string the threads back to the crystals and knot them tight.

20.



You have done the first part of the bracelet. If you love it, you can stop here.

The patterns of the whole bracelet are here. Sorry, there are all in Thai.
- Page 1
- Page 2
- Page 3
- Page 4

Please continue with the second part of the tutorial HERE

KITCHEN ZONE

http://hesti-myworkofart.blogspot.com/
http://cobacoba-isna.blogspot.com/

10 Teknik Disiplin Terburuk

diambil dari Blog mba Elen Kristi. Sekalian bikin arsip.

Sumber: Discipline: A Sourcebook of 50 Failsafe Techniques for Parents tulisan James Windell, seorang psikoterapis Amerika yang mengkhususkan diri menangani masalah-masalah keluarga.

http://www.cmindonesia.com/arsip.html


Teknik Disiplin Terburuk #1

  • 1. Kekerasan Fisik
    Ini bukan sekedar memukul pantat (spanking), yang akan saya bicarakan nanti sebagai salah satu teknik disiplin fisik. Walaupun saya tidak merekomendasikan memukul pantat atau mencablek (swatting), saya tahu banyak orangtua yang memandangnya sebagai teknik disiplin yang sah. Di sini, yang saya daftar sebagai nomor satu dalam Daftar Disiplin Buruk saya adalah memukul keras dengan tangan atau benda (hitting), memukuli berkali-kali (beating), menampar, meninju, dan beragam bentuk serangan fisik lain terhadap anak.
    Saat ini kita sudah jauh lebih sadar ketimbang orangtua di masa lampau betapa seriusnya dampak kekerasan fisik bagi kesehatan mental anak. Anak bisa mengalami kehancuran harga diri, berbagai masalah dan gangguan perilaku yang terbawa sampai dewasa. Sangat mungkin, pengalaman diserang secara fisik ketika kanak-kanak akan menghasilkan perilaku kekerasan di masa dewasa, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai bentuk tindak kriminal serta kekerasan lain. Tidak ada bukti bahwa menggunakan kekuatan fisik pada anak-anak menghasilkan apa pun yang positif dalam hidup mereka.
    Satu contoh penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh orangtua, yang bisa digolongkan serangan fisik, diilustrasikan dalam satu situasi di antara Ibu B dan M, putrinya yang berumur 7 tahun.
    Pada suatu hari kerja ketika Ibu B hendak menitipkan anak-anaknya ke seorang pengasuh (selain M, ia punya anak lelaki berumur 6 tahun), M sepertinya bertekad untuk tidak mau bekerjasama. Ibu B merasa makin tegang karena berkejaran dengan waktu. Ia bergegas menyiapkan diri untuk ke kantor sementara mengemasi perlengkapan yang dibutuhkan anak-anaknya di rumah sang pengasuh. M dengan keras kepala berlambat-lambat ganti baju lalu merengek minta disuapi.
    Ibu B mencoba sesabar mungkin sementara dia menjelaskan pada M bahwa dia akan makan di rumah sang pengasuh dan dia betul-betul tak punya waktu untuk membantu M sekarang. M lalu menangis keras-keras, menghentak-hentakkan kaki, dan memaki ibunya, “Ibu nakal!”
    “Terserah apa katamu!” jawab Ibu B. “Kamu tetap harus ganti baju untuk pergi ke rumah pengasuh dan maaf Ibu tak punya waktu untuk menyuapimu.”
    Sesaat kemudian, pengasuh itu datang menjemput. Anak lelaki Ibu B keluar rumah untuk menyambutnya. Tapi M menolak menemuinya, dan terus-menerus melontarkan kata-kata yang menyakiti hati ibunya. Ibu B mulai merasa putus asa sementara dia mengawasi jam dinding sambil memoleskan lipstik.
    “Ibu peringatkan ya!” dia berteriak ke arah M. “Pergi dan ikut Mbak X atau kamu akan mendapat masalah besar!”
    M menyambar ranselnya dan menjerit sementara ia mendorong pintu sekuat tenaga. “Aku nggak mau lagi tinggal di sini!” Itu adalah hantaman terakhir sebelum kesabaran Ibu B runtuh. Dia juga lari mengejar M yang sedang menyeberangi pekarangan. “Kalau kau berani keluar dari pagar, tahu rasa nanti!” ancamnya.
    M tidak peduli dan terus berlari. “Ibu pukul kamu kalau kau tidak kembali!” teriak Ibu B sementara anak lelakinya dan sang pengasuh memandang tertegun. Ibu B melangkah kaki lebar-lebar untuk menjajari M. Begitu ibu B menyambar leher bajunya, M mulai merengek dan mengubah nada suaranya.
    “Iya, iya! Aku pulang! Jangan pukul!”
    “Telat!” sahut Ibu B dan dengan diamati oleh si pengasuh dan satu atau dua tetangga, dia mulai memukuli pantat M dengan tasnya. M mulai menangsi melolong dan lari menuju rumah, melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ibu B di jaketnya.Terjadi kejar-kejaran lagi. Ibu B terengah-engah menyusul anak perempuannya sambil memarahi M yang telah membuatnya terlambat ke kantor. Dia menangkap M sebelum sempat melewati pintu depan. M menjerit, “Lepaskan aku, Ibu jelek, nakal!”
    Ibu B betul-betul kehilangan kendali kali ini. Sambil menjerit balik, dia mulai memukul membabi buta, hantamannya mengenai pundak dan mendarat dua kali di muka M. Ketika M terjatuh, Ibu B menariknya paksa supaya berdiri. Sambil berseru-seru, “Ampun, Bu!” M ditarik ke arah si pengasuh.
    Ini adalah situasi yang umum terjadi di banyak keluarga ketika orangtua stress dan anak-anak tidak bersedia menurut segera. Kekerasan fisik yang terjadi jarang sekali menghasilkan apa pun yang berguna untuk perkembangan anak. Sebaliknya, sikap seperti itu hanya melahirkan kemarahan, kebencian, sikap permusuhan, dan sering pula hasrat untuk membalas dendam kepada orangtua yang telah melakukan kekerasan fisik itu.


  • 2. Paksaan (Coercion)

    Teknik ini mirip dengan kekerasan fisik, karena melibatkan tindakan fisik secara langsung maupun tak langsung. Apabila anak tidak mau bekerjasama, orangtua seringkali merasa tidak punya cara lain untuk membuat mereka menurut selain dengan kekerasan dan ancaman. Berikut ini contoh bagaimana seorang bapak menggunaan paksaan sebagai cara memperoleh ketaatan.
    Bapak C sedang berada di ruang tungu dokter karena anaknya, N, harus memperoleh suntikan anti alergi dua bulanan. Sementara mereka menunggu, N mulai asyik bermain halma dengan anak lain. Ketika perawat memanggil nama N, dia berpura-pura tidak dengar dan terus bermain.
    “Cepat masuk, N!” tuntut Bapak C.“Tidak mau!” jawab N, masih duduk di lantai untuk menggerakkan bidak halmanya."Bapak bilang, masuk!” tuntut sang ayah, nada keras muncul dalam suaranya. “Namamu sudah dipanggil, dan kamu harus masuk!"
    N bergeming. Dia tahu ayahnya akan datang dan menariknya, maka dia berpegangan erat ke sebuah kursi. Betul, Bapak C menyambar kaos N dan mulai menyeretnya. “Lepaskan kursi itu!” bentak Bapak C sementara berusaha melepaskan pegangan N dari kursi.
    Sementara tarik menarik ini berlangsung ulet, Bapak C kini mengancam N. “Masuk sekarang, atau kau akan dapat masalah besar nanti di rumah!” N menyadari bahwa ancaman ayahnya bukan sekedar sesumbar, akhirnya menyerah. “Aku benci ayah!” katanya sambil cemberut dan berjalan menghentak-hentakkan kaki ke ruang periksa dokter.
    Persamaan lain antara paksaan (coercion) dan kekerasan fisik adalah bentuk respons anak terhadapnya. Anak-anak menjadi marah pada ayah atau ibunya dan menjauhkan diri dari orangtua mereka. Para orangtua yang sering memakai paksaan seperti ini sebagai teknik disiplin banyak mengeluhkan sikap anak-anak mereka yang suka berbohong atau tidak berterus terang, melakukan berbagai hal diam-diam tanpa sepengetahuan mereka. Sikap-sikap itu sebenarnya dampak wajar ketika anak menghindari konflik dengan sikap keras orangtua.


  • 3. Berteriak

    Teknik ini begitu umum dikerjakan. Sepertinya para orangtua punya keyakinan bahwa berteriak adalah cara yang bermanfaat untuk membuat anak menurut. Seolah-olah ayah dan ibu berpikir (meskipun saya ragu apakah mereka betul-betul melibatkan pikiran dalam hal ini), bahwa kalau orangtua menaikkan tingkat decibel suaranya, maka lebih besar kemungkinan anak mau bekerjasama.
    Kita semua pernah berteriak atau membentak dalam satu atau lebih kesempatan, dan kita pasti tahu bahwa pada sebagian besar kasus cara ini tidak efektif. Namun kita terus saja memakainya. Mengapa? Barangkali karena itu sudah menjadi kebiasaan atau itulah satu-satunya cara yang kita bisa pikirkan atau kita perlu menyalurkan ledakan amarah atau rasa frustrasi kita atau karena cara ini memang mudah. Berteriak menuntut lebih sedikit waktu dan upaya untuk berpikir atau belajar menemukan teknik disiplin yang lebih baik dan berhasil.
    Kisah ini terjadi setelah makan malam. Anak-anak asyik menggambar sementara Ibu S membersihkan dapur dan mencuci piring-piring kotor. Ketika menghampiri ruang makan, Ibu S terkejut sekali melihat coretan-coretan spidol yang tak bisa dihapus memenuhi meja makan kayunya yang baru. Pikiran Ibu S langsung kalut dan dia pun meledak.
    Ibu S mengangkat ember yang berisi alat gambar anak-anaknya lalu membantingnya ke lantai. Spidol dan krayon berserakan ke mana-mana. Lalu Ibu S berteriak marah, “Ambil itu! Bersihkan semuanya!” dan langsung menghambur ke kamar dan membanting pintu keras-keras.
    Ketiga anak itu menjerit-jerit dan menangis. Terdengar anak yang paling besar protes, “Kenapa, Ma? Kan bukan kami yang berantakin?”
    Seringkali kita berteriak atau membentak karena kehabisan kesabaran dan akal. Berteriak menjadi seperti solusi cepat, membuat kita merasa sudah melakukan sesuatu yang penting untuk menangani anak-anak yang sulit diatur ini. Namun, berteriak hanya berguna apabila anak begitu benci mendengar kita mengeraskan suara, sehingga mereka akan melakukan apa saja supaya kita mau tutup mulut. Namun yang lebih sering terjadi, ketika kita meneriaki atau membentak anak-anak, mereka menjadi takut dan cemas, atau mereka lama-lama tahu bahwa cuma itulah yang bisa kita lakukan, lalu belajar untuk bersikap cuek pada teriakan dan bentakan kita.


  • 4. Tuntutan Seketika

    Teknik ini sangat erat terhubung dengan berteriak atau membentak. Biasanya keduanya dikerjakan berbarengan. Sangat umum mendengar orangtua berseru, “Cepat lakukan itu sekarang!” atau “Bersihkan saat ini juga!” Seperti kisah Ibu N berikut ini.PictureC, putra Ibu N yang berumur enam tahun, sudah hafal betul keiasaan ibunya menuntut ketaatan seketika. “Kalau kamu tidak berhenti mengganggu adikmu, Ibu pukul nanti!” katanya. “Berhenti mengganggu adikmu sekarang juga!” Seruan-seruan itu tidak menyurutkan C. Maka beberapa menit kemudian terdengar lagi bentakan Ibu N, “Kau dengar Ibu tidak? Berhenti sekarang!”
    Begitulah, setiap kali C melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi sang iu, akan muncul tuntutan baru supaya C menghentikan perilakunya “sekarang!”. C, tentu saja, jarang merespon tuntutan-tuntutan ini. Dan sikap C itu tambah lagi membuat Ibu N kesal dan mengomel. Lebih banyak perintah dikeluarkan, yang kemudian berakhir dengan sentakan di kerah baju C. Kalau Ibu N menggoncang-goncang badan C terlalu keras, lalu C terjatuh, maka muncul lagi perintah baru, “Diam! Berhenti menangis! Ibu tadi tidak menyakitimu! Ibu bilang, stop menangis C!”
    Anak di atas usia 15 bulan umumnya tidak mau menurut seketika kecuali dia merasa begitu terintimidasi atau takut sehingga ia pasrah pada orangtua yang suka menuntut. Sepertinya sudah kodrat manusia, kita merasa kehilangan harga diri ketika kita menaati orang yang semena-mena memberi perintah atau menuntut ketaatan seketika. Orang-orang dewasa benci sekali diperlakukan sewenang-wenang dan sepertinya sangat masuk akal bahwa anak-anak pun merasakan hal yang sama. Resep mudah untuk memunculkan tantrum atau adu urat antara orangtua dan anak adalah ibu atau bapak yang tiba-tiba menyuruh, “Ayo cepat tidur!” atau “Hentikan itu sekarang juga!”
    Situasinya akan berbeda apabila orangtua menghindari perintah untuk perubahan yang mendadak dan memberikan peringatan atau perkiraan waktu. Kebanyakan anak memberi respon lebih baik ketika diberi amaran, “Lima belas menit lagi waktu bermain habis dan lampu kamar akan dimatikan.” Peringatan itu bisa diberikan lagi setiap lima menit, mungkin, maka pada saat menit M tiba, anak-anak sudah tidak terkejut dan siap. Rata-rata anak butuh waktu transisi untuk menghentikan apa yang dia sedang kerjakan. Mereka enggan merespon perintah yang mendadak (“Cukup mewarnainya, sekarang simpan semua itu dan makan!”) dan tak bisa diharapkan langsung menurut seperti robot.21 jam yang lalu · Suka ·  6


  • 5. Nagging (Desakan, tuntutan terus menerus)

    Di antara semua hal keliru yang orangtua lakukan, nagging adalah yang paling tidak efektif. Teknik ini juga biasanya akan dilanjutkan dengan bentakan atau paksaan. Tentu ada alasannya bahwa hampir semua buku tentang parenting yang Anda baca akan merekomendasikan sikap tegas dan konsistensi. Tatkala orangtua tegas, ia akan terhindar dari jebakan nagging. Meski demikian, banyak ibu dan ayah yang justru konsistennya dalam hal nagging ini.
    Orangtua Sh adalah contoh tukang nagging yang konsisten. Suatu pagi di tengah masa libur sekolah, ibu Sh memintanya membersihkan kamarnya. Sampai siang, Sh sama sekali belum mulai menyentuhnya. Ibunya pun mulai unjuk suara.“Sh, kamarmu sudah bersih belum?” tanya si ibu.“Belum, Bu,” jawab Sh. “Sebentar lagi aku bersihkan.”Lima belas menit kemudian Ibu meneriakkan pertanyaan yang sama dari dapur. “Kau sudah mulai bersihkan kamarmu? Kamarmu itu berantakan sekali dan Ibu tidak tahan melihatnya. Kau harus kerjakan itu hari ini!”“Oke,” jawab Sh, walaupun dia kini sedang asyik tenggelam dalam permainan video game di ruang keluarga.“Sh,” kata ibunya sekian menit kemudian. “Berapa kali lagi ibu harus memintamu untuk membersihkan kamarmu? Cepat lakukan sekarang!”“Sekarang aku masih sibuk, Bu,” keluh Sh. “Lagi seru, nanggung kalau game-nya kutinggal sekarang. Nanti aku bereskan setelah aku selesai main ini.”Sekian menit kemudian, ibunya mulai terdengar makin jengkel dan gusar. “Ibu tidak mau mengingatkanmu lagi, Sh. Pergi ke kamarmu!”Satu jam kemudian, percakapan yang senada masih terus berlanjut antara Sh dan ibunya. Dan dia tidak lebih maju sedikit pun untuk membersihkan kamarnya daripada pagi tadi. Sh berhasil melewati hari itu tanpa membersihkan kamarnya. Keesokan paginya, ibu Sh meneruskan tema nagging-nya kemarin.
    Mengapa orangtua berlaku seperti itu: mendesak, mengingatkan, mengomel berulang kali? Sering karena mereka bingung harus bersikap bagaimana untuk membuat anak-anak melakukan apa yang mereka harapkan akan anak-anak itu kerjakan. Sering juga karena mereka ragu-ragu atau lemah memakai keterampilan disiplin lain yang lebih efektif. Setiap saat ibu atau ayah mendapati dirinya berkata, “Berapa kali aku harus memberitahumu untuk …” berarti ia sedang menggunakan teknik nagging dan membutuhkan opsi-opsi teknik disiplin lain yang lebih baik.

  •   #6 Ceramah Moral

  • “Maksud Anda, saya tidak bisa lagi menceramahi anak tentang pentingnya belajar?” Maaf sekali, tapi itu dan kuliah-kuliah kesukaan Anda tentang kewajiban bertanggung jawab, menjauhi teman-teman bermasalah, jangan merokok, dan sebagainya terpaksa harus didaftar di sini. Mengapa? Karena anak-anak biasanya tidak betul-betul mau mendengarkan. Segala macam ‘pidato’ yang Anda berikan kepada anak dengan awalan “Seharusnya kamu …” atau “Waktu Bapak/Ibu seumur kamu …” atau pembukaan-pembukaan gambit ceramah lainnya cenderung tidak efektif.
    Sering, orangtua berpaling pada teknik ceramah moral (moralisme) karena mereka pikir cara ini bisa menyadarkan anaknya. Seperti yang dikerjakan oleh Bapak dan Ibu R berikut ini.
    Putra Bapak dan Ibu R yang berusia 16 tahun mematahkan semua upaya orangtuanya dalam memperbaiki nilai-nilai dan perilakunya di sekolah. Mereka telah mencoba segala macam cara yang mereka tahu – hadiah, janji, hukuman, ancaman. Maka yang tersisa hanyalah, menurut mereka, mengkuliahi anak itu.
    Memberi kuliah bukan hal sulit bagi Ibu R, karena dia adalah kepala bagian di kantor yang biasa menuntut respek dari bawahannya. Dengan pendidikan yang tinggi dan pengalaman kerjanya, Ibu R tahu betul manfaat pendidikan. Kalau kesadaran yang sama bisa ditransfer ke anak lelakinya, ia yakin anak itu pasti akan berperilaku sesuai harapan ayah-ibunya. Maka, baik Ibu maupun Bapak R sering memanggil anak mereka dan memulai monolog panjang yang intinya, “Kamu tidak akan bisa jadi orang kalau kamu tidak mengubah perilakumu di sekolah dan bekerja keras. Siapa yang mau mempekerjakanmu kalau kamu tidak berpendidikan baik?”
    Kuliah-kuliah ini senantiasa berjalan searah, karena pertanyaan-pertanyaannya bersifat retoris, tidak dimaksudkan untuk dijawab. Dan kalau Bapak atau Ibu R menuntut putranya menjawab, respon yang keluar sebatas, “Aku tidak tahu” atau “Aku akan berusaha lebih baik lagi semester depan”. Jawaban-jawaban standar seperti ini biasanya tidak memuaskan orangtua dan hanya membuat mereka memperpanjang ceramah.
    Pasangan R punya harapan dan rencana tinggi bagi putra semata wayang mereka. Mereka sangat berkepentingan melihatnya berprestasi di sekolah dan bisa melanjutkan kuliah. Dan ketika anak itu tidak memenuhi harapan itu, mereka menjadi panik dan berupaya mencari jalan pintas untuk mengatasinya. Cara yang paling cepat dalam pandangan mereka adalah memberikan nasihat-nasihat yang bagus dan berusaha meyakinkan si anak bahwa nasihat itu memang bagus.
    Sayangnya, kebanyakan anak – terutama remaja – menulikan telinga ketika diceramahi. Dengan begitu, ceramah atau kuliah adalah teknik disiplin yang membuang-buang waktu dan energi. Prinsipnya, orang tidak suka diceramahi tentang apa yang harus dikerjakan. Kita lebih suka kita yang didengarkan dan dipahami. Pada umumnya, saat kita merasa butuh nasihat, kita yang akan memintanya. Orang dewasa merasa begitu. Anak-anak juga merasa begitu. Dan setiap anak yang ikut sesi terapi dengan James Windell juga mengiyakan perasaan itu – sekalipun mereka sadar bahwa mereka sedang berlaku salah. Anak-anak ingin memiliki otonomi atas kehidupan mereka sendiri, termasuk melakukan kesalahan. Hidup mereka adalah hidup mereka, bukan hidup ayah atau ibu.


  • 7. Reaksi Emosional Berlebihan

    Orangtua sering tidak konsisten dalam merespons perilaku anak. Ketika kita dalam kondisi gembira, kita bisa bersikap ramah bahkan membiarkan perilaku buruk anak. Tetapi ketika kita dalam kondisi tertekan atau banyak masalah, kita memunculkan reaksi berlebihan pada perilaku itu, sekalipun perilaku itu barangkali tidak seburuk dari yang kita biarkan sebelumnya. Lantas, anak akan memperoleh dosis kemarahan, kritik, hukuman, atau nasihat yang lebih tinggi. Apa pun yang kita katakan atau lakukan terhadap mereka di titik ini biasanya tak sebanding dengan pelanggaran disiplin mereka.
    Hari-hari itu Ibu G sedang mendapat masalah di tempat kerja, juga bertengkar dengan suaminya. Sudah beberapa waktu belakangan ini, Ibu G adu argumen dengan bosnya di kantor soal pengaturan jam kerja lemburnya yang berlebihan. Kelelahan bekerja, rasa kesal pada bos, ditambah dengan relasinya yang sedang kacau dengan suami, membuat Ibu G naik pitam saat putrinya L yang berumur tujuh tahun datang membawa surat dari guru di sekolahnya. Surat itu memberitahukan bahwa L sulit diatur di kelas dan sering lalai mengerjakan PR.
    “Itu adalah hal terakhir yang saya butuhkan,” kenang Ibu G kemudian di sesi terapi. “Saya betul-betul meledak marah, marah sekali pada L.”
    “L, tega-teganya kamu melakukan ini pada Ibu! Sungguh memalukan. Kenapa kamu begitu malas dan tidak tahu aturan? Ibu marah dan malu sekali, gurumu sampai harus menyurati Ibu seperti ini. Kamu sungguh bikin malu ibu! Jangan sampai ibu terima surat seperti ini lagi. Selama tiga minggu ke depan kamu nggak boleh main di luar, harus belajar terus di rumah. Ibu mau lihat apa kelakuanmu bisa jadi lebih baik. Ibu nggak yakin kamu bakal jadi lebih baik kalau cara belajarmu masih seperti sekarang.”
    Belakangan, Ibu G sadar bahwa dia sudah menunjukkan reaksi berlebihan, dan sebenarnya hanya melampiaskan pendaman emosinya sendiri pada putrinya itu. Namun kesadaran itu datang terlambat. Kata-kata yang keluar saat kita melampiaskan amarah dan emosi-emosi negatif lain terhadap anak-anak akan menyakiti dan merusak persepsi mereka tentang diri sendiri, orangtua, atau kehidupan. Kata-kata penuh amarah bisa tersimpan lama dalam kenangan anak-anak, kenangan yang akan kita sesali di kemudian hari. Satu-satunya imunisasi bagi penyakit bernama ‘penyesalan’ adalah kesadaran (eling).
    Catatan penutup: Saya dulu pernah menulis bahwa 'dosa' terbesar orangtua adalah ketidaksabaran. Kita tidak sabar karena kita lupa bahwa anak-anak tidak bisa membaca pikiran kita, bahwa anak-anak adalah pribadi yang punya pola pikir dan selera sendiri, bahwa ada waktu yang akan membantu mereka untuk lebih matang secara raga maupun jiwa, dan bahwa anak-anak itu ya anak-anak.20 jam yang lalu · Telah disunting · Suka ·  6


  • #8 Mempermalukan

    Jika kita ingin anak-anak tumbuh kuat secara emosional dan nyaman dengan diri mereka sendiri, maka mempermalukan atau merendahkan atau mengucapkan hal-hal yang menghina mereka harus disingkirkan dari perbendaharaan teknik disiplin kita.
    Yang saya maksud dengan mempermalukan atau merendahkan adalah kata-kata yang membuat anak merasa kecil (“Kenapa tingkahmu seperti anak bayi?”), merasa tidak mampu (“Kamu itu sudah besar, tapi kelakuanmu kok seperti anak kecil!”), merasa bodoh (“Tolol sekali! Masa begitu saja tidak bisa sih?”), dan merasa tak aman (“Mama tidak tahan pada kalian! Mama mau pergi, pergi selama-lamanya!”). Semua ini barangkali terdengar ekstrim, namun saya sering mendengarnya—bukan hanya dari orangtua, tetapi juga guru-guru di sekolah.
    Beberapa anak balita bermain bersama sementara ibu-ibu mereka mengawasi sambil mengobrol sendiri. Ibu S dan anaknya M terlibat di sana. Suatu saat M mengambil mainan yang sedang dimainkan oleh temannya. Kedua anak itu akhirnya berebut dan menangis. Karena tak enak hati, ibu S buru-buru memukul tangan M sambil membentak, “Kembalikan! Nakal kamu!” Lalu sambil berpaling ke arah ibu-ibu yang lain, ia berkata, “Memang anak ini bandel. Di rumah juga begitu, senangnya bikin rusuh.”
    Mempermalukan adalan teknik yang umum sekali dipakai orangtua di mana-mana, bahkan di keluarga-keluarga yang paling ‘manis’ dan tak pernah melakukan kekerasan fisik. Studi di Kanada menemukan bahwa hanya 4% anak yang merasa tidak pernah mengalami dipermalukan oleh orangtua dalam arti “pernyataan-pernyataan yang menolak, merendahkan, meneror, mengkritik secara destruktif, atau menghina” (Solomon & Serres, 1999).
    Windell menegaskan: Tak seorang pun ayah atau ibu (atau guru), kalau dia betul-betul ingin anak memiliki percaya diri yang kuat, akan coba-coba mempermainkan harga diri anak, menggodanya dengan ‘candaan’ menghina terus-terusan, atau memakai bahasa sarkastis, meremehkan, atau komentar-komentar lain yang meruntuhkan martabat anak, apalagi di hadapan teman-temannya.

  • 9. Memasang Perangkap

    Menurut saya teknik ini adalah bentuk lain dari mempermalukan anak. Orangtua, ketika tahu bahwa anak gagal mencapai standar yang ia inginkan, sengaja menciptakan situasi untuk menangkap basah anak melakukan dusta atau kesalahan untuk menjatuhkan moralnya. James Windell menceritakan contoh kasusnya seperti ini:
    Bapak N secara rutin menginspeksi kamar pribadi anak perempuannya B, setiap kali B sedang keluar bersama teman-temannya. Satu hari ia menemukan catatan pribadi yang jelas membuktikan bahwa B merokok. Malam itu ia memanggil B untuk bercakap-cakap.
    Nada suaranya awalnya biasa saja dan bersahabat. Namun segera arah pembicaraan menuju ke topik teman-teman B dan tentang anak perempuan yang merokok. Lalu dia bertanya apakah B dan teman-teman perempuannya juga merokok. B menjawab, “Tidak, kami sama sekali tidak merokok.” Perangkap Bapak N telah memperoleh sasarannya. Ia pun merogoh kantongnya dan melemparkan catatan pribadi itu ke lantai di hadapannya dan berkata, “Kalau begitu bagaimana kau bisa menjelaskan ini?”
    B tidak bisa mengelak lagi. Dia berusaha berbohong tapi itu hanya membuat Bapak N semakin keras menuduhnya sebagai pembohong, yang berakhir dengan ceramah panjang dan hukuman.
    Anak-anak yang terbiasa dijebak dengan cara seperti ini umumnya justru tidak menyesal atas kesalahan mereka, namun cenderung makin pandai berbohong dan menyembunyikan kesalahan mereka, selain membangun tembok komunikasi yang makin tebal dengan orangtuanya. Mereka belajar untuk senantiasa waspada, bahkan curiga, atas arah pertanyaan orangtua mereka. Hasilnya adalah problem komunikasi dan relasi orangtua-anak yang serius.

  • 10. Membangkitkan Rasa Bersalah Berlebihan

    Bukannya berarti rasa bersalah itu sama sekali buruk. Rasa bersalah juga perlu bagi kebanyakan orang agar mereka menjadi warga negara yang baik dan taat hukum. Yang perlu dihindari adalah rasa bersalah yang berlebihan, yang melumpuhkan. Inilah jenis rasa bersalah yang membuat seseorang merasa tak percaya diri, lemah, tak bisa bertindak lepas dan mandiri.
    Sebagian orangtua pandai sekali membangkitkan rasa bersalah dalam diri anak. Mereka mengatakan hal-hal seperti, “Kalau kamu sayang pada Bapak (atau Ibu), mustinya kamu menurut.” Atau, “Bapak (atau Ibu) selama ini sudah habis-habisan kerja keras buat kamu, lantas apa balasanmu?”. Jenis kalimat ‘memeras’ seperti ini bisa berdampak tidak sehat bagi perkembangan kepribadian anak.
    Acap pula orangtua membangkitkan rasa bersalah dengan membuat anak merasa bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kondisi orangtuanya. “Kamu membuat Ibu marah!” atau “Gara-gara kamu, Bapak jadi sakit!” adalah contoh sikap seperti itu. Mari kita merenung sejenak. Orang lain, siapa pun, termasuk anak-anak kita, bisa menjadi stimulan bagi emosi kita, namun pilihan untuk membiarkan diri terhanyut dalam emosi itu atau tidak, siapakah yang paling bertanggung jawab kalau bukan kita sendiri?
    Situasi seperti ini sering terjadi di keluarga W. Dari perkawinan dengan istri pertamanya, Bapak W memperoleh seorang putri yang sekarang berumur sembilan tahun. Setelah bercerai, dia lantas menikah lagi. Putrinya, B, mengunjungi keluarga Bapak W yang baru ini setiap akhir pekan. Istri kedua Bapak W kurang suka pada B dan situasi ini sering menciptakan suasana yang tak menyenangkan.
    Suatu akhir pekan, B sedang bermain lempar bola karet bersama kucingnya. Lemparannya tidak selalu pas. Kadang mengenai vas bunga, kadang hampir menyenggol lampu duduk. Ibu tiri B memperingatkannya untuk lebih hati-hati. Bapak W tidak mempedulikan situasi itu dan asyik membaca surat kabar di sofa.
    Nah! Terjadi juga! Bola yang dilempar betul-betul akhirnya menghantam gelas di meja. Gelas itu jatuh dan pecah. Ibu W tak tahan lagi. Sambil berteriak jengkel, dia menghambur keluar rumah dan masuk ke mobil. Dia menyalakan mesin dengan deruman keras dan ngebut pergi, meninggalkan Bapak W dan putrinya yang saling memandang.
    “Tante mau ke mana?” tanya B pada ayahnya.
    “Sepertinya dia marah padamu,” kata Bapak W. “Papa tidak paham, kenapa sih kamu harus selalu mengerjakan hal-hal yang membuat dia kesal. Papa berusaha membuat hari Minggu menyenangkan untuk kalian semua, tapi kau selalu merusak suasana.”
    Sungguh tidak adil bahwa B harus memikul tanggung jawab atas semua ledakan emosi ibu tiri dan ayahnya. Situasi seperti ini sangat tidak sehat. Dalam jangka panjang, menanamkan rasa bersalah seperti ini akan membuat B tumbuh menjadi pribadi yang terlalu sensitif dan was-was akan perubahan mood orang-orang di sekelilingnya.
    Demikianlah teknik disiplin terburuk kesepuluh, dan terakhir, telah saya sadur secara bebas. Semua teknik ini - kekerasan fisik, paksaan, teriakan/bentakan, tuntutan seketika, omelan terus-menerus tanpa disertai aksi, moralisasi, reaksi emosional berlebihan, mempermalukan, memasang perangkap, dan membangkitkan rasa bersalah berlebihan - tidaklah efektif dan seringkali hanya menghasilkan problem emosional dan perilaku pada anak-anak kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk terus menggunakannya.

    #sesak baca ini...karena dr sepuluh poin..sembilan pernah saya lakukan..(tutup muka)..istighfar...ayo bunda...mana yg sering dilakukan dirumah...segera dekap erat ananda...kecup pipinya dan bikin kesepakatan baru..belajar untuk mau mendengarkan anak..menghargainya sbg manusia..yg memiliki hati, fikiran dan perasaan...maafkan bunda ya sayanggg...


    adakah yg bs memberikan solusi disiplin yg dimaksud mbak Elen itu yg bagaimana? yg ikut seminarnya kemarin? bisa berbagi disini?

    sungguh amanah ini berat di pikul sendirian..maka gandeng tangan suami, orang2 disekitar lingkaran ananda...

    eratkan genggaman dg sahabat yg mau bersama-sama menuju tujuan yg sama menjadi orang tua sholeh yg menggunakan cinta yg berfikir...menjadi orgtua yg mau belajar dan terus memperbaiki dirinya sblm memperbaiki keluarganya....

    gerbong ini harus segera berjalan, beraksi..jangan berhenti hy pd tekad...tapi mulailah...

    seperti kata mbak Dessy Rilia:  Memulai itu mudah, yang sulit itu terus komitmen pada apa yang kita mulai. Banyak godaan, ada kelelahan, dihadang kejenuhan. Jadi bagaimana..? Jangan biarkan dirimu sendiri.. cari sahabat, ambil dukungan. Untuk tetap berada pada jalur, kita perlu suplai semangat, saran dan juga pengingat. Menemukan itu mudah, yang sulit itu mengembangkan potensi temuan. Akan ada banyak cela, muncul keraguan, butuh waktu dan kesabaran. Jadi bagaimana..? Jangan pernah berhenti belajar dan memupuk keimanan. Belajar untuk lebih banyak ilmu dan menjadi bijaksana. Beriman untuk harapan yang akan terus ada.

MAKANAN & BUAH YANG MENGANDUNG ASAM FOLAT

MAKANAN & BUAH YANG MENGANDUNG ASAM FOLAT

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tubuh orang dewasa membutuhkan 400 mikrogram asam folat setiap harinya. Sedangkan pada wanita hamil asupan asam folat yang diperlukan sebanyak 800 mikrogram/hari. Jangan anggap sepele, jika tubuh kekurangan asam folat bisa mengakibatkan terjadinya cacat bawaan pada bayi. Seperti cacat tabung syaraf dan keabnormalan otak serta sum-sum tulang belakang. Asam folat relatif mudah didapat lantaran tersedia dalam sayuran hijau dan buah-buah. Seperti:

* Brokoli
Sayur yang masih satu ini masih tergolong satu family dengan kubisan-kubisan yang berkhasiat mampu mempercepat proses penyembuhan bagi mereka yang baru saja menderita sakit berat. Selain itu, brokoli juga disinyalir dapat mencegah dan menghambat berkembangnya sel kanker yang menjadi momok bagi banyak orang.

* Kacang-kacangan

Kacang-kacangan sudah sejak lama diketahui sumber protein juga serat yang kaya akan gizi seperti halnya mineral. Vitamin B, karbohidrat komplek. Umumnya, kacang-kacangan mengandung 8-17% protein, 100 g zat besi dan 100 g kalsium. <br><br>

* Bayam
Dalam dua ikat bayam terdapat asam folat kurang dari 200 mikrogram.

* Telur
Asam folat yang terdapat pada telur terletak di putih telur. Pada telur bebek kandungan asam folat sebesar 14,85 mcg/l00g tidak berbeda jauh dengan putih telur ayam yang mencapai 14,67 mcg/l00g.

* Alpukat
Hingga kini, alpukat dipercaya dapat dikonsumsi sebagai penangkal gejala flu. Kandungan vitamin E-nya mampu menetralkan radikal bebas dan menekan risiko infeksi, sedangkan vitamin B-nya membantu produksi antibodi secara alami. Kandungan omega-6, asam lemak esensial dalam alpukat, juga bermanfaat untuk meredakan radang. Beberapa penelitian membuktikan buah ini mampu meningkatkan sistem imun.

* Gandum dan Susu
Dua jenis panganan ini juga memiliki asam folat yang cukup tinggi. Sejak tahun 1996 Food and Drug Administration (FDA) telah mengeluarkan peraturan yang mengharuskan penambahan asam folat pada roti, sereal, tepung, makanan yang terbuat dari jagung, pasta, beras dan produk biji-bijian lain.

* Jeruk
Selain dikenal sebagai sumber vitamin C, buah bundar satu ini juga merupakan sumber asam folat yang potensial. Bahkan dari satu buah jeruk 20% kebutuhan folat sehari-hari dapat terpenuhi. Tak cukup sampai disitu jeruk mampu meningkatkan kadar folat dan kadar racun dalam pembuluh darah pun menurun.

* Stroberi
Meski mahal, buah yang dijadikan lambang cinta pada zaman Yunani kuno ini cukup diminati masyarakat. Delapan buah stroberi atau 1 gelas potongan stroberi hanya mengandung 50 kalori dan tidak mengandung kolesterol atau asam lemak jenuh. Ini setara dengan 7,5 persen kebutuhan asam folat harian untuk ibu hamil. Tak heran jika stroberi menjadi alternative camilan ataupun pelengkap makanan yang sehat

* Hati sapi
Selain mengandung asam folat hati sapi juga mengandung vitamin A yang cukup tinggi. Sayangnya, mereka yang sedang mengandung tidak diajurkan mengkonsumsi hati sapi karena dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan. Namun tak perlu khawatir, mereka yang mengkonsumsi hati sapi dapat menggantinya dengan dengan minum susu.

* Pisang
Dengan mengkonsumsi 1,5-2 pisang setiap hari, maka kebutuhan asam folat dapat terpenuhi. Pasalnya dua buah pisang setara dengan 58 mikrogram folat yang dengan kata lain hanya memenuhi sepertiga kebutuhan folat tubuh.

SHARE ya bunda ... Semoga membawa manfaat untuk bunda lainnya

RAHIM TERBALIK, APA ITU ?

RAHIM TERBALIK, APA ITU?
 
Rahim terbalik atau uterus retofleksi adalah suatu kondisi dimana puncak rahim terletak di belakang dan atau bawah rongga panggul. Penyebabnya tidak diketahui, umumnya merupakan bawaan sejak lahir. Pada saat hamil di atas tiga bulan, umumnya sulit mengetahui apakah rahim Ibu terbalik atau tidak karena rahim sudah membesar dan keluar dari rongga panggul.

Repotnya, ada sekitar 30% wanita yang posisi rahimnya disebut retrofleksi, atau dalam istilah awam disebut “tebalik”. Kondisi ini bisa diketahui dokter kandungan saat periksa dalam. Nah, jika kebetulan sperma yang akan membuahi sel telurnya juga “lamban”, maka kondisi rahim “terbalik” ini memang tidak menguntungkan. Mengapa? Pada kondisi rahim yang “terbalik”, sehabis berhubungan intim biasanya cairan sperma (yang pada dasarnya memang sudah “lamban”) seolah-olah tumpah keluar tanpa sempat membuahi.

Rahim Terbalik / Uterus Retrofleksi terjadi jika posisi rahim letaknya membelakangi pelvis. Kondisi ini bisa jadi karena tertekuk, rebah kebelakang atau rahim terbalik. Pada kondisi normal, rahim sebagai oragan tempat bayi tumbuh dan berkembang letaknya cenderung condong kearah perut atau tegak terhadap pelvis.
Rahim yang rebah bisa terjadi jika rahim tak pernah dikembalikan keposisi yang benar selama masih anak-anak atau memasuki usia dewasa. Rahim rebah juga bisa terjadi karena endometriosis atau uterine fibroid yang sama-sama menyebabkan parut atau bintil-bintil yang berakibat pada perubahan posisi rahim.

Banyak wanita tidak menyadari bahwa posisi rahimnya rebah sampai kemudian merasakan adanya keluhan.

♦ Gejalanya antara lain : rasa sakit saat haid atau berhubungan seks, mudah ngompol, infeksi saluran kencing, dan keluhan ketidaksuburan. Sebagian besar rahim rebah atau tipped uterus ditemukan saat pemeriksaan oleh ginekolog.

♦ Perawatan terhadap keluhan rahim rebah dilakukan dengan sedikit operasi kecil. Maksudnya untuk melakukan koreksi. Cara lain bisa dengan senam khusus, meskipun hasilnya bersifat sementara. Selain itu ada alat serupa silicon yang dimasukan melalui vagina untuk memperbaiki letak rahim yang rebah.

♦ Rebah rahim tidak selalu menyebabkan masalah kesuburan dan kehamilan. Sperma masih mampu mencapai sel telur untuk terjadinya pembuahan. Tapi perlu dilakukan koreksi posisi rahim pada akhir trimaster pertama. Jarang terjadi rahim rebah pada ibu hamil menyebabkan keguguran. Mayaritas kehamilan dengan kondisi rahim rebah bias mencapai cukup bulan dan tidak ada komplikasi yang dialami ibu dan bayinya. Rahim terbalik atau rebah terjadi pada sekitar 20% wanita diseluruh dunia, meskipun dilaporkan tidak menyebabkan komplikasi selain keluhan sakit.

Umumnya gejala yang paling mudah dikenali antara lain :

* Merasa kesakitan saat berhubungan seks atau dyspareunia
* Sakit selama haid (dysmenorrhea)
* Sakit pada pinggan bagian bawah
* Sering terkena infeksi saluran kencing
* Sering mengompol
* Sakit saat memakai pembalut tampon
* Keluhan kesuburan

Jika merasakan sebagian keluhan diatas, sebaiknya segera pemerikasaan kedokter kandungan untuk pemeriksaan lebih detail. Biasanya akan dilakukan pemerikasaan pelvis dan USG.

Hal lain yang perlu dilakukan :

► Olahraga, melakukan gerakan menarik lutut ke dada dapat memperbaiki letak rahim.
► Pessaries, sejenis plastic silicon yang dimasukkan ke rahim melalui vagina untuk mendukung agar rahim berada pada posisi yang seharusnya. Namun pemakaiannya hanya bersifat sementara.
► Pembedahan, operasi kecil dilakukan untuk melakukan koreksi dengan tujuan mereposisi ulang rahim dengan memotong dan memperpendek ligament yang menyokongnya. UPLIFT adalah bedah laparoskopi yang dilakukan dengan bantuan kamera mini.

♠ Posisi Berhubungan Intim Untuk Rahim terbalik ♠

Untuk mengatasinya, seseorang yang memiliki rahim terbalik dianjurkan untuk melakukan modifikasi posisi. Posisi yang disarankan adalah posisi menunduk atau menungging dan arah penetrasi pasangan dari belakang. Dengan posisi ini, mulut rahim akan searah dengan arah keluarnya sperma.

Setelah ejakulasi, jangan langsung berbaring terlentang atau berdiri. Usahakan tetap pertahankan posisi menunduk atau menungging sekitar 15 menit. Tujuannya untuk memberi kesempatan sperma berenang masuk ke dalam rahim dan menemui sel telur di saluran tuba (tuba fallopi). Dengan demikian, kehamilan diharapkan akan terjadi.

Share ya bunda ...

APA BEDA KISTA DAN MIOM ?

APA BEDA KISTA DAN MIOM? Bunda Wajib Tau!

** PENTING : Pertanyaan selain masalah di topik ini, mohon tulis di Wall ya Bund ..

Sedikit kaum hawa di negeri ini yang memahami perbedaan antara penyakit kista dan mioma (myom). Memang, kedua penyakit ini sama-sama semacam tumor yang menyerang organ reproduksi perempuan. Pada tingkat tertentu kista dan mioma bersifat jinak.

Hanya saja, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Yang pertama adalah lokasi tempat tumbuhnya kista dan mioma. Lokasi pertumbuhan kista berada pada indung telur (ovarium). Maka, penyakit ini kerap disebut dengan istilah kista ovarium.

Adapun mioma tumbuh pada otot rahim kaum perempuan. "Berbeda dengan kista yang tumbuh di luar rahim. Di sini letak perbedaannya," kata Martin Walean, dokter kandungan RS Permata Bunda.

Pertumbuhan mioma, atau istilah medisnya mioma uteri, dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain status hormonal. Hormon mempunyai peran yang sangat penting pada aktivitas rahim, khususnya hormon estrogen.

Hormon estrogen dapat merangsang pertumbuhan tumor yang satu ini. Sebab, jaringan mioma memiliki jumlah reseptor estrogen yang lebih tinggi daripada jaringan otot kandungan. Jadi kerap tumbuh lebih cepat pada masa usia reproduksi, terutama pada masa kehamilan.

Yang membuat mioma berbahaya adalah karena ia dapat tumbuh lebih dari satu lokasi di dalam rahim, dengan berat dan ukuran bervariasi. Ini menyebabkan gangguan pada rahim.

Perbedaan kedua adalah wujudnya. Apabila kista ovarium berbentuk kantong yang berisikan cairan, mioma berbentuk padat.

Menurut Boyke Dian Nugraha, ahli kandungan dari Klinik Pasutri Tebet, Jakarta, untuk bisa membedakan kista dan mioma dapat dilakukan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) empat dimensi. "Karena, cukup sulit membedakan keduanya dengan pemeriksaan konvensional," katanya.

Boyke menambahkan, saat ukuran kista dan mioma mulai membesar, diperlukan penanganan khusus, misalnya tindakan pengangkatan laparoskopi dan laparatomi. "Tindakan ini hanya disarankan kepada wanita, yang ukuran kista atau miomanya di atas 5 sentimeter," ungkap Boyke.

Meski belum diketahui penyebab munculnya kista ataupun mioma, kedua tumor jinak itu dapat dihindari dengan penerapan pola hidup yang sehat dan berkualitas.

Untuk menghindari kedua penyakit tersebut ada baiknya kaum wanita mengurangi konsumsi makanan berlemak dan sering mengonsumsi makanan kaya serat. Selain itu, hindari pemberian zat tambahan pada makanan. Yang paling penting adalah rutin berolahraga. Kebiasaan rokok dan alkohol jelas harus dihentikan. Kalau bisa, juga hindari stres.

Meski hanya 0,1% dari total kasus tumor jinak ini yang berkembang menjadi kanker ganas, bukan tidak mungkin ke depannya akan makin banyak perempuan yang mengidap kista atau mioma. Jika tidak dicegah sedari dini, kista dapat tumbuh jadi kanker ovarium mematikan.

Saat ini, kanker ovarium merupakan penyebab kematian utama pada kasus penyakit ginekologi di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, kanker ovarium merupakan penyakit kelima yang menyebabkan kematian perempuan setelah kanker paru-paru, kolorektal, payudara, dan pankreas.

Catatan saja, di AS, sebelum tahun 1998, kasus kanker ovarium pada perempuan berusia di bawah 50 tahun mencapai 5,3 per 100.000 kasus. Angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1998 tercatat merudi 41,4 per 100.000 kasus yang menimpa perempuan di atas 50 tahun.

APA ITU ENDOMETRIOSIS ?

APA ITU ENDOMETRIOSIS? ...

** PENTING : Pertanyaan selain masalah di topik ini, mohon tulis di Wall ya Bund ..

Endometriosis adalah kondisi di mana sel-sel yang seharusnya berada di lapisan rahim (endometrium) ternyata tumbuh di bagian lain dari tubuh wanita, sel-sel tersebut kemudian berdarah setiap kali wanita mengalami periode menstruasi.

Endometriosis biasanya dialami oleh wanita berusia antara 25 - 49 tahun dan diperkirakan dialami oleh 15 dari 100 perempuan usia subur. Endometriosis sering ditemukan di indung telur, saluran telur, kandung kemih dan bagian lain dari perut dan panggul.

Selain menyakitkan dan berat, endometriosis dapat mempengaruhi kesuburan seorang wanita karena dapat mengakibatkan ovarium, saluran telur atau rahim mengalami kerusakan. Gejala endometriosis diantaranya, nyeri perut, sakit saat berhubungan seks dan periode mentruasi yang tidak teratur. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti, risiko bisa lebih meningkat jika seorang wanita memiliki sejarah keluarga yang juga mengalami hal serupa. Seperti, ibu atau saudara kandung.

Gejala-gejala. Kebanyakan penderita menduga gejala-gejala endometriosis merupakan hal yang biasa terjadi pada pre-mestrual syndrome (PMS). Selain itu, endometrum yang 'tidak pada tempatnya' ini tidak dapat diraba dari luar.

Namun ada beberapa endometriosis yang menunjukkan sejumlah gejala khas, seperti:

* Perut nyeri selama haid, kadang disertai kejang pada otot perut.
* Pinggang terasa sakit ketika duduk
* Panggul terasa nyeri, baik pada bagian belakang maupun samping
* Sakit perut yang mirip dengan gejala sakit maag
* Anus dan sekitarnya terasa sakit ketika buang air besar
* Vagina terasa tebal
* Muncul bercak-bercak merah jauh sebelum tibanya siklus haid
* Nyeri pada saat bersanggama
* Seringkali terjadi “banjir” darah pada waktu haid.

♦♦ LANGKAH PEMERIKSAAN DAN PENGOBATAN ♦♦

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk pemeriksaan dan pengobatannya:

# Deteksi melalui pemeriksaan panggul, USG dan CT Scan (untuk melihat letak dan kondisi endomestriosis), laparoskopi (melihat langsung jaringan endometrium di luar rahim), biopsy (pengambilan sedikit jaringan yang dicurigai) untuk memastikan diagnosa.

# Terapi obat, yaitu memanipulasi hormone dan menekan proses haid sementara. Kadang pengobatan itu diganti dengan pil KB atau KB suntik. Penggunaan obat hanya untuk endometriosis ringan.

# Pembedahan, bila terapi obat gagal. Bisa bedah mikro, bedah konvensional, atau laparoskopi. Laparoskopi bisanya dibarengi tindakan lain, seperti pembedahan laser (energi laser merusak implant dan perlekatan dalam serta tersebar), bedah krio (menghancurkan jaringan dengan pembekuan), atau elektrokauterisasi (panas tinggi mematikan jaringan). Bila ukuran endometriosis sangat besar (diameter di atas 10 cm), perlu pengangkatan indung telur.

# Kombinasi antara operasi laparoskipi atau laparotomi dengan terapi hormon, agar Endomestriosis tidak kambuh.

Jangan berkecil hati dulu, Bunda. Jika Anda menderita endometriosis, upaya yang bisa Anda lakukan adalah tetap membiasakan diri hidup sehat serta berpikir positif. Cara itu, tidak hanya akan menekan kemungkinan endometriosis membesar, tetapi juga akan memperbesar kemungkinan Anda memiliki keturunan yang sehat.

♦♦ Bisakah Hamil? ♦♦

* 70% kasus endometriosis ringan (stadium 1 dan 2) bisa hamil setelah operasi.
* Ada pula penderita endometriosis yang tanpa operasi bisa hamil, lalu gejala endometriosis berkurang.
* Bila hamil padahal memiliki endometriosis, waspada karena berisiko hamil di luar rahim (ektopik).

Fakta endometriosis mempengaruhi kesuburan karena menyebabkan indung telur, saluran telur dan organ reproduksi lainnya tidak berfungsi normal. Akibatnya, pembuahan sulit terjadi.

MANFAAT ASAM FOLAT DALAM ALPUKAT

♦ MANFAAT ASAM FOLAT DALAM ALPUKAT ♦

** PENTING : Pertanyaan selain masalah di topik ini, mohon tulis di Wall ya Bund ..

Asam folat sebenarnya vitamin B9, bagian dari vitamin B kompleks, jenis vitamin yang larut air. Dengan sifatnya yang larut air, vitamin ini tidak bisa disimpan lama di dalam tubuh karena setelah diambil oleh tubuh lalu dikeluarkan lewat urine. Dengan sifatnya itu, ibu hamil serta ibu yang berniat hamil perlu mengasup asam folat setiap hari. Vitamin ini dapat membantu tubuh dalam memproduksi dan menjaga kesempurnaan DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) dan RNA (Ribonucleic acid), bahan genetik tubuh.

Para ahli menganjurkan, ibu hamil sebaiknya mengasup sumber asam folat dari buah-buahan segar atau sayur lalap. Karena sayur yang dimasak 80% kandungan asam folatnya hilang saat proses pemasakan.

♣ Alpukat Bikin janin sehat ♣

Buah yang paling kaya kandungan asam folatnya adalah alpukat yang sering dijumpai dalam es campur, es teler, dan jus alpukat. Banyak orang takut mengonsumsi buah ini karena beranggapan alpukat sangat tinggi kandungan lemaknya. Memang benar, kandungan lemak dalam alpukat bisa 20-30 kali lebih banyak dibandingkan buah-buahan lain. Namun perlu diketahui, lemak yang terkandung pada alpukat adalah lemak baik. Yakni lemak tak jenuh tunggal yang disebut-sebut dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menaikkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik).

Alpukat adalah satu-satunya buah yang mengandung asam lemak tak jenuh tunggal. Bagi ibu hamil yang butuh lemak sebagai penghasil energi, tentunya akan lebih baik bila lemak yang diasup bersifat tak jenuh. Selain itu, alpukat juga buah yang paling kaya asam folat -zat gizi yang bahkan sudah harus dipenuhi oleh ibu yang berniat hamil dan juga ibu hamil sejak baru terbentuk embrio.

Menurut Prof. dr. Joseph Hersh dari Fakultas Kedokteran Universitas Louisville, Kentucky, AS, trimester I merupakan masa pembentukan sistem saraf pusat janin, termasuk otak dan sumsum tulang belakang. Bayi yang kekurangan asam folat bisa menderita gangguan jantung, bibir sumbing, cacat saluran kemih, serta cacat anggota tubuh lainnya. Penelitian pada 1991 juga menemukan hubungan antara asam folat dan cacat lahir. Kekurangan asam folat -yang mempengaruhi pembentukan fungsi otak, saraf, dan sumsum tulang- ternyata dapat berakibat bayi yang dilahirkan cacat.

Seperti pada zat-zat gizi lain, kalau janin tidak memperoleh pasokan asam folat, dia akan mengambilnya dari cadangan sang ibu. Hal ini akan berpengaruh buruk pada kesehatan ibu. Selain anemia, letih, lesu, insomnia (susah tidur), pelupa, depresi, sampai rambut beruban, ibu terancam pula oleh risiko terkena kanker usus besar, payudara, dan pankreas.

Sebuah alpukat mengandung 114 mikrogram asam folat. Jumlah ini cukup memenuhi 30% kebutuhan asam folat ibu hamil. Kebutuhan asam folat yang direkomendasikan bagi ibu hamil setiap harinya sekitar 600 mikrogram, ibu menyusui 500 mikrogram, serta perempuan dewasa 400 mikrogram. Selain asam folat dan lemak, alpukat mengandung serat yang mampu membantu mencegah sembelit yang sering dialami ibu hamil. Sedangkan kadar kalium (bermanfaat untuk menyeimbangkan tekanan darah) pada alpukat 2-3 kali lebih banyak daripada pisang.

Untung saja makanan tradisional Indonesia kaya akan asam folat, semisal sayuran berwarna hijau, buah-buahan berwarna jingga dan merah. Sumber asam folat pada bahan makanan lain adalah susu, pisang, jeruk, brokoli, taoge, dan kacang-kacangan (termasuk tahu, tempe). Nah, kalau kita sering makan karedok, terancam, rujak buah, dan masih banyak lagi, tentunya kebutuhan akan asam folat akan terpenuhi.

♦ Mungkin ada yang bertanya apakah mengkonsumsi alpukat secara berlebihan dapat membahayakan janin?

Sampai saat ini belum ada penelitian yang meneliti makan alpukat berlebihan dapat mengganggu janin, justru makan alpukat dianjurkan pada awal – awal kehamilan karena alpukat kaya akan asam folat yang penting bagi pembetukan organ janin. Sedangkan untuk ibu, alpukat merupakan tambahan energi yang baik karena mengandung lemak tak jenuh.

♦ Kalau misalnya ibu hamil yang mempunyai tekanan darah yg cenderung rendah,apa alpukat bisa berdampak untuk menurunkan tekanan darah ibu hamil?

alpukat tidak memiliki efek menurunkan tekanan darah pada ibu hamil.

Semoga Bermanfaat. LIKE dan BAGIKAN ya bunda..
Sumber : Buku Menu Sehat, edisi Serba-serbi Kehamilan.